Menu Right

Top Social Icons

Slider Area 1

Slider Area 2

Slider Area 3

Responsive Full Width Ad

YOUR RESPONSIVE AD CODE
Left Sidebar
Left Sidebar
Featured News
Right Sidebar
Right Sidebar

NOTARIS

PENANAMAN MODAL ASING

Latest Updates

CERITA

DIARY

CAREER

YOUR RESPONSIVE AD CODE

PARENTING

RELATIONSHIP

GOOD STORY

YOUR RESPONSIVE AD CODE

RELIGIUS

WISATA

BERITA

Friday, 26 August 2016

5 Tips Untuk Menghadapi Hubungan Yang Tak Pasti


Dalam satu bulan terakhir, Dia tidak sering lagi mengirimkan pesan-pesan manisnya yang sudah jadi rutinitas, atau tidak mengajakmu untuk bertemu walaupun hanya sekedar mampir. Ada sesuatu yang berbeda, dan perasaan muncul, timbul pertanyaan "apakah Dia masih tertarik denganku atau Dia sedang memerlukan waktu untuk sendri ?"   

Jika Anda dalam kondisi ini, apa yang harus dilakukan ? 

Meskipun ini terlalu dini untuk membicarakannya, tapi ada baiknya sebagai bahan untuk mengambil tindakan. 

Plan A. Mengirim pesan kepada Dia, bahwa betapa cemasnya dirimu ? Hal ini akan berdampak, Dia merasa tidak mempunyai ruang dan waktu untuk dirinya sendiri, terlalu protektif, dan ingatlah bahwa tidak semua menyukai satu rutinitas kecil, yang jika terlewati menjadi seperti "Dosa". 

Plan B, memperhatikan profil media sosialnya, dan memperhatikan adanya kehadiran orang lain dalam kehidupan Dia. Jika bukti ditemukan, maka Anda akan menghabiskan berjam-jam bermuram durja atas temuan itu. (Jangan lakukan itu)

Dua rencana tersebut merupakan ketidakmampuan untuk mengatasi perasaan tidak nyaman. Yang mana ketidakpastian dan ambiguitas mengakibakan Anda tidak tahu ada dimana dan sulit untuk menangaganinya. Dan Anda mungkin berpkir, Anda tidak memiliki kapasitas untuk kembali dan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi Anda lakukan.

Ada lima tips untuk membantu Anda mentolerir ketidaknyamanan,  bukannya diperintah oleh itu:

1. Mengakui bahwa itu menyebalkan.

Mungkin Anda percaya diri Anda untuk lebih siap untuk menangani ambiguitas dalam sebuah hubungan daripada Anda sesungguhnya. Anda mungkin berpikir diri Anda sebagai seseorang yang dingin dan tidak perlu hubungan yang ditetapkan. Padahal sebenarnya Anda dapat dengan mudah jatuh kedalam kegagalan ketika terjadi pola perubahan interaksi. Dan Anda mengakui bahwa ini adalah setengah pertempuran diri. 

2. Jaga perasaan Anda.

Anggap saja sebagai satu kesempatan Anda untuk membuat ruang daripada mendorongnya pergi. Ketika merasakan kepedihan, ketidaknyamanan, amati di mana posisi dia dalam diri Anda, dengan emosi tidak nyaman yang mungkin Anda alami dan pikiran menantang yang muncul dalam pikiran Anda. Perasaan itu akan akan berkurang dan hilang.  Perhatikan proses ini, catat secara aktif  saat-saat ketidaknyamanan Anda menurun. Praktek ini merupakan cara meningkatkan kemampuan Anda untuk mengelola setiap situasi yang menantang.

3. Alihkan diri Anda.

Kadang-kadang, Anda hanya merasa kewalahan dengan rasa tidak nyaman, dan menjadi satu moment yang sulit. Lakukan sesuatu  yang kreatif, untuk mengubah keadaan emosi Anda dengan cara yang positif.

4. Carilah dukungan.

Kebanyakan orang merasa terbantu untuk menjangkau teman yang mendukung yang dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan Anda. Kepada teman, sahabat, atau keluarga. Pilihlah dengan seseorang yang memang "dekat", meskipun Anda tahu tidak semua bisa membantu memberikan penyelesaian, tapi paling tidak apa yang menjadi kegundahan dan kecemasan Anda bisa sedikit tercurahkan.
5. Jangan percaya rasionalisasi Anda.

Ketika Anda mencoba untuk mentolerir perasaan Anda, Anda akan mendengar suara hati untuk membujuk Anda untuk meninggalkan pekerjaan Anda dan mengejar rencana kurang optimal tetapi lebih nyaman. Jadilah skeptis, karena Anda dapat dengan mudah meyakinkan diri sendiri bahwa suara itu adalah suara alasan. Periksa logika Anda dengan orang yang objektif sebelum mengambil tindakan.

Ingat, pengalaman pertumbuhan, belajar bagaimana untuk mentolerir ketidaknyamanan emosional menjadi lebih mudah dengan semakin banyak Anda berlatih. Ketika Anda mengembangkan kemampuan lebih besar untuk mengelola emosi Anda, Anda akan melihat diri Anda menjadi lebih banyak akal pada saat-saat sulit dalam hubungan Anda. Dan dengan ketahanan itu, Anda akan menjadi lebih terbuka untuk hidup.

Saduran mindbodygreen.com





Sunday, 21 August 2016

Adi Sasono, In Memorial (Gedung Kuning)



Dear Bapak, 

Ini cerita tentang kantor kita, Gedung Kuning, Jl.Agus Salim 117.
--
Sampai dua tahun  pertama setelah menjabat Menteri, Bapak masih didampingi seorang ajudan, Mas Wahyudi, notabene adalah salah satu staf dari Kementrian Koperasi.  Kehadiran Mas Wahyudi membantu dalam menjalankan tugas, terutama dalam hal protokoler. Waktu setahun lebih menjabat, sebenarnya tidak banyak mempengaruhi kegiatan Bapak dalam menghadiri setiap acara. Dalam arti bahwa, Bapak sudah terbiasa mengatur setiap acara dengan tanpa protokoler, berbeda halnya semasa menjabat, protokoler diperlukan sebagai satu bentuk SOP kerja. 

Ada perbedaan yang cukup menyolok dalam keprotokolan sesudah tidak menjabat. Ketika semasa menjabat, Ajudan harus ke rumah, bersamaan dengan Bapak ke kantor atau ke acara lain, dan pulang bersama Bapak. Tapi setelah menjabat, ajudan cukup datang pagi di kantor, dan pulang setelah bapak pulang. Bapak sangat fleksibel dalam hal ini, jika memang perlu didampingi, Bapak akan minta didampingi, tapi jika tidak perlu, Bapak berangkat sendiri (tentunya dengan Pak Misiran) dan Mas wahyudi bisa membantuku di kantor atau mengerjakan hal yang lain.

Mas Wahyudi, aku yakin Mas mempunyai kesan tersendiri tentang Bapak, baik secara pribadi maupun secara formal. Kebersamaan kita memang tidak lama, tapi tali silaturahmi antara kita insya allah akan terus terjaga. Kepedulian Mas tentang setiap perkembangan Bapak jika aku kabari Mas, atau jika Mas menanyakan kabar Bapak, itu sebagai salah satu ciri silaturahmi kita. Many thanks Mas, Mas sudah menemani kami beberapa waktu yang lalu, doa Kita untuk Bapak, semoga amal Ibadah Bapak diterima disisi Allah Swt. Aamiin YRA.

-- 
Jam kantor 08.30, tapi Bapak sering membuat agenda sendiri, jam 7.30 atau jam 8 sudah ada di kantor untuk menemui tamu. Kadang bilang, kadang tidak. Tapi Bapak konsekwen, karena jam kantor 8.30, aku tidak wajib datang lebih pagi untuk mendampinginya.
  
"Ren, besok Saya janji dengan A, jam 7.30 di Agus Salim. Tolong bilang Kiki siapkan ruangan." 

Kiki, anak kantor yang bantu kami, sudah cukup hapal dengan SOP tidak tertulis. Jika Bapak datang atau tamu datang, selalu lapor melalui telepon.

Bapak, ada guyonan kalau Bapak datang lebih dulu ke kantor. Aku sampai di kantor dengan tergesa-gesa, membuka pintu depan, dan aku temui Yani. "Yan, sekretarisku sudah datang ?" 
(馃檹馃檹 Maaf ya Pak).

#Di Agus Salim, Yani yang membantuku, terutama jika aku ditugaskan keluar, Ada Nur yang bantu Kiki, Ada Ema yang dulu resepsionis, Ada Pak Edi dan Rizal. 
   
--
Gedung Kuning, berlantai dua. Aku hapal sekali jika Bapak datang, menaiki tangga dengan suara hentakan kaki yang khas.  Memasuki ruangan, dengan salam,  pasti melewatiku (wajib lapor☺️). Jika tamu belum datang, Bapak duduk di depan mejaku atau memintaku ke ruangannya. 

Setiap "menghadap" aku selalu membawa buku catatan dan satu pena. Mengapa ?  Aku tidak ingin ada yang terlewat apa yang diminta Bapak (walaupun ga ada yang perlu dicatat, kadang aku menulis catatan kecil tentang pertemuan itu).  

Ada satu kejadian yang membuatku melakukan itu... 

Satu ketika Bapak memanggilku, dengan tangan kosong aku duduk manis di depan Bapak. Bapak bicara bla bla dan aku mengangguk-angguk. Kemudian Bapak bertanya, jadi apa pointnya dari pembicaraan kita barusan ? Aku jawab dengan harapan semuanya benar (waktu itu aku masih cukup muda, dan aku yakin aku mudah untuk mengingat semua pembicaraan Bapak馃檹)

"Kurang dua point Ren, coba ingat-ingat apa yang terlewat"  Aku mengerutkan kening, sepertinya aku sudah benar, tak ada yang terlewat. 

Bapak menghampiriku dan menepuk pundak kiriku. 

"2 yang terlewat. Itu amanat, jika dari 8 amanat terlewat 2 amanat, artinya amanat itu belum disampaikan semua, dan itu dosa."

Halus, tapi tegas. Tak perlu berdebat tentang apa yang terlewat, Bapak mengulang point-point itu, dan ternyata memang 8 point. 

Aku terpekur dan diam. 

--
Tahu Post It kan ? Dulu post it tidak banyak warna seperti sekarang, masih satu warna, kuning. Lebih banyak kertas-kertas polos warna warni berukuran bujur sangkar kecil yang aku siapkan di meja kerja Bapak.  Bapak mencatat nomor-nomor telepon kolega, dan menyalinnya di handphone atau tulisan-tulisan lain yang jujur nyaris tidak terbaca 馃檹馃檹. Aku tidak pernah membuangnya, sampai akhirnya Bapak sendiri yang akan membuangnya.

Tentang nomor telepon itu ada ceritanya, dan banyak manfaat (buatku).

Setiap Bapak bertemu dengan tamu-tamu, terutama dengan yang baru, Bapak akan bertukar kartu nama atau menanyakan nomor telepon dengan nama lengkap atau lembaga atau satu sisi khas mereka. 

"Nama Anda siapa ?" tanya Bapak sambil membuka handphone (HP) dan mencatat nama serta nomor teleponnya. 

#Bapak dulu menyebut handphone itu dengan "telepon tangan" 

Contoh :  

Maidas Balai IB Sapi Lembang
Nur Hidayat Sapi Ass Pedagang Dagimg Imd

- Jadi, "Sapi" itu seperti category. Jika Bapak ada yang perlu bantuan tentang sapi, Bapak tinggal cari "sapi" dikontaknya 馃檹

#Bapak dengan senang hati akan merekomendasikan seseorang yang perlu bantuan, contoh yang berhubungan dengan sapi itu, dengan bekal "salam dari Saya"

Waktu itu HP Bapak Nokia Communicator 9000. Bapak senang dengan HP itu, seperti dapat mainan baru 馃槉, tambah rajin juga mencatat nomor telepon langsung di HP, termasuk kartu nama pun disalinnya.  Ada semacam aplikasi "Note" di sana,  aku tidak menduga, jika Bapak menghadiri rapat-rapat atau diskusi, Bapak mencatat kesimpulan dari hasil pertemuan-pertemuan itu馃槺

Suatu hari HP itu rusak dan aku aku segera memperbaikinya. Ketika sampai di tempat service, aku bertanya, apakah kontak didalam handphone itu bisa diback up dan ditransfer ke handphoneku ? Dan ternyata bisa. Ini manfaatnya, jika Bapak minta aku menghubungi seseorang, aku tidak perlu lagi minta nomor teleponnya ke Bapak (mungkin waktu itu Bapak berpikir, kok pintar sekali, ga diberi nomor telepon tapi sudah bisa tersambung馃榾馃榾)


#sampai saat ini, teman-teman Bapak menganggapku sebagai hardisk Bapak, mereka menganggap aku tahu semua informasi tentang Bapak, tidak hanya tentang nomor-nomor telepon itu, tapi hal-hal lain. "Reina 108"馃榾馃榾

--
Tentang tulisan Bapak yang nyaris tidak terbaca bagi umum 馃檹馃檹 
(percaya ga percaya, tulisanku sekarang mirip dengan tulisan Bapak, dalam arti sukar dibaca orang, dan kadang aku  sendiri harus mengerutkan kening dulu untuk  membacanya lagi馃槺馃槺)

Sebelum menjadi Komisaris Utama di Republika, Bapak pernah menjabat sebagai salah satu dari Dewan Redaksi Republika. Tentunya Bapak sangat paham dengan redaksi penerbitan. Ini berdampak dalam pembuatan makalah jika Bapak diundang sebagai Pembicara. 

Jika ada draft makalah, draft itu bisa berulang-ulang direvisi, apa itu ejaan, susunan kata,  kalimat, tapi yang jadi masalah (buatku), revisi itu dibuat dengan tulisan tangan馃榾馃榾馃檹  Dengan susah payah dan bolak balik aku bertanya ke Bapak, "ini apa pak?" Dan aku akan menuliskan kembali dengan huruf cetak (agar lebih jelas).

Pernah suatu kali, dengan asumsi aku sudah cukup paham dengan materi makalah itu, dan sudah "sedikit" mengenal tulisan Bapak, revisi itu aku langsung aku buat, print, dan aku serahkan ke Bapak. Bapak membacanya, dengan kening berkerut.馃檮

"Ini maksudnya apa ya Ren?" sambil menunjuk arah paragraf yang aku revisi. Dan aku menjelaskan sambil memegang dan membaca draft awalnya. Bapak tertawa dan mengambil draft itu. 

"Dulu ikut Pramuka Ga ?" Aku mengangguk, tak mengerti.
"Pasti siaga juga tidak lulus. Kalau sampai penegak pasti bisa baca tulisan Saya" 

馃檹馃檹 Kelakar seperti itu yang aku suka, jika aku melakukan kesalahan dalam pekerjaan, Bapak tidak pernah menyalahkanku begitu saja.  

Ada satu kalimat Bapak tentang satu hubungan antar kerja :

"Jangan menyalahkan anak buah, karena anak buah akan melaksanakan apa perintah Anda, bagaimana cara Anda memerintahnya, itu  menjadi tanggung jawab Anda";  ❤️❤️

#dan selanjutnya, sandi rumput itu bisa aku baca dengan baik (entah siapa lagi yang bisa membacanya)

--
Ada cerita lucu tentang surat menyurat (apa ini juga dampak sebagai "redaksi":馃榾) 

Secara teori, jika kita membalas surat, pasti akan  menghubungkan dengan nomor surat, tanggal, dan perihal dari surat pengirim. Kadang nomor surat dan perihal bisa menjadikan satu paragraf panjang, apalagi itu kalau itu surat resmi.  Secara naluri  kubuat surat itu sesuai teori. Aku perlihatkan ke Bapak, dengan lampiran surat si pengirim.


"Ren, saya tidak bisa bernafas." Raut wajah Bapak datar, tanpa ekspresi. 

Aku kaget. 
Wah, asma Bapak kambuh, pikirku. "Bapak sakit ?" 
"Iya.. setelah membaca jawaban surat ini."
Ada yang salahkah, pikirku.
"Kenapa dengan surat itu ?"
"Saya sampai tidak bisa bernafas membacanya, karena Saya mencari titik untuk membuat saya berhenti membaca." Bapak tertawa sambil menyerahkan surat itu.
"Tolong betulkan surat itu, jangan buat "kalimat Gajah", ambil intinya saja, dan paragraf terakhir cukup ditutup dengan "Terima Kasih." sebelum salam. 

Dan sejak itu, surat-suratku tidak pernah ada lagi "kalimat Gajah" dan penutup "Atas perhatian Bapak /Ibu bla bla bla... (termasuk surat-surat formal pada pekerjaanku).


---

Bersambung

Tuesday, 16 August 2016

Adi Sasono, In Memorial

Foto : Majalah Kabare

Adi Sasono
16 Februari 1943 - 13 Agustus 2016


Dear Bapak, 

Baru sempat aku tulis catatan tentang hari-hari berlalu yang telah aku lalui bersama Bapak. Bukan satu hal yang sulit untuk mengingat semua yang telah terjadi, aku harus memulai dari waktu 19 tahun yang lalu. Bisa menjadi buku yang berjilid-jilid sepertinya. 

Kemarin-kemarin, seakan tidak ada ide untuk menulis (biarkan orang lain dulu yang bicara dan menulis tentang Bapak), tidak ada semangat untuk melangkah ataupun melakukan sesuatu. Aku terlalu sibuk menghapus air mata yang kadang menetes tanpa terasa, merasakan langkah kaki yang mengambang dan kaku. Aku tidak boleh begini kan Pak ?  

Dan Selasa kemarin, pikiranku mulai sedikit jernih, aku mulai menerima apa yang terjadi. Kepergian Bapak tidak seharusnya menjadikan aku rapuh karena kehilangan sosok seorang Bapak, Guru, Panutan, partner kerja, sahabat, dan sekaligus tempat aku bercerita. Tapi harus diyakini, bahwa bekal yang telah aku terima selama ini,  ilmu, pelajaran dan pengalaman, harus membuat aku lebih tegar, mandiri dan percaya diri. Dan Bapak begitu yakin, bahwa aku mampu menghadapi semua persoalan dan menyelesaikannya dengan baik. Itu suatu tantangan.

Masih teringat dengan jelas ketika aku memulai profesiku sebagai notaris, meninggalkan sejenak hari-hariku bersama Bapak,  dan sekali waktu Bapak bertanya :

"Ren, jadi notaris itu untuk apa ? Biar bisa pasang papan nama di jalan ya atau biar dapat Lambang Garuda ?"  Aku tertawa mendengar pertanyaannya. Dan aku jawab dengan polos, "Biar aku bisa buka warung, bisa mandiri, mengatur waktu sendiri ." 

"Kenapa tidak di Jakarta ?"
 "Di Jakarta sudah close Pak, dan Reina bisa pindah kalau sudah 3 tahun, itu pun kalau di Jakarta masih ada formasi."
"Ya sudah, kita lihat 3 tahun, dan pindah ke Jakarta lagi." 

Dan sekarang, 2 tahun 7 bulan, aku jalani Profesi Notaris, belum genap syaratku untuk pindah ke Jakarta, Bapak telah pergi.  

Satu hal yang tidak pernah luput dari ingatanku. Menjalani tahun-tahun di Jakarta, dan kembali ke Bandung, seolah-olah di Bandung networkku menjadi mati. Tidak ada yang dapat aku jajaki. Pada saat itulah aku minta tolong kepada Bapak, untuk menghubungi beberapa kolega di dunia lembaga keuangan untuk membantu memberikan kesempatan untuk kerjasama.

Apa yang Bapak sampaikan padaku waktu itu adalah :

"Saya yakin Rena bisa masuk ke link Saya, tanpa Saya memberikan surat atau wacana kepada Mereka. Pergunakan link Saya dengan baik dan amanah, sampaikan kepada Mereka, Salam dari Saya."

Rangkain kalimat itu  tegas, membuatku terpaku. Masa sih Bapak tega melakukan itu ? Sulit membayangkan, biasanya duduk manis pun mendapat gaji, sekarang duduk manis anak-anak ga bakalan sekolah, dan perjuangan baru pun dimulai..

Pantang bagiku untuk merengek kembali atas tolakan halusnya. Bapak yakin aku bisa, kenapa aku tidak ? Dan dalam perjalanan profesiku, client-clientku 70% berasal dari network yang telah  terbangun selama ini, notabene adalah link Bapak, dengan berbekal "Salam dari  Bapak"  Alhamdulillah... 

Ada prinsip yang Bapak ajarkan padaku. JADILAH WANITA MANDIRI,  jangan tergantung pada orang lain, tidak pada suami, dan tidak pada orang yang menggaji, berdoalah dan ikhtiar serta  berpikiran positif. Kalimat itu yang memicuku untuk lebih percaya diri.

#dari dulu Bapak memanggilku dengan "Ren", "Rena" padahal sudah berulang kali diingatkan, dan  Pak Misiran pun memanggilku "Mbak Ren".  

***

Bapak, seperti yang aku tulis di atas,  jika aku ceritakan semua, tulisan ini akan menjadi buku yang berjilid-jilid. Banyak yang ingin aku tulis, aku tidak ingin memulai dari satu hal yang besar, tapi dari hal kecil, kecil sekali, tapi begitu  dalam dan berarti. 

Ketika di Bulan Januari, 1997, aku mulai menjajaki Gedung BPPT LT 23,  sebagai hasil rekomendasi Moh Jumhur Hidayat, Priyo Budi Santoso, Ricky Rachmadi dan Tatat Rahmita Utami, untuk mendampingi Bapak (Many thanks for You All, gave me chance to be around You)Jujur, sedikit gentar  aku melangkah, mengingat sosok "Sang Ketua Dewan Direktur" yang terkenal tegas dengan ciri khas tersendiri di lingkungan kami. 

Ada seorang anak laki-laki di Lantai 23 itu, namanya Juli, seorang office boy yang bantu Bapak untuk menyiapkan keperluan di sana. Sebagai orang baru, aku harus belajar dan adaptasi dengan lingkungan baru. Di antara masa adaptasi itu, Bapak mengingatkan :


"Ren, Anda bisa belajar dari Juli, walaupun dia office boy, dia lebih dulu tahu dan mengerti tentang Saya dan lingkungan di sini." 


Itu adalah pelajaran pertama dari Bapak. Touch banget, memberi ilmu baru tentang hidup, bahwa kita dapat belajar dari siapapun.    


Aku selalu mengingat,  bagaimana cara Bapak memanggilku untuk ke ruangan Bapak  : "Ren, tolong ke kamar saya."  atau  "memerintah"ku untuk melakukan sesuatu, selalu dimulai dengan kata "tolong", itu memang perintah, tapi dengan kata itu aku merasa itu bukan perintah, bagiku itu adalah satu permintaan tolong untuk membantu Bapak.  Cara  yang membuat aku merasa dihargai. Dan jika semua sudah selesai, Bapak selalu mengucapkan : "Terima Kasih."   Kecil kan ? tapi memberikan arti, satu penghargaan. 


Di tahun pertama, aku belajar lebih banyak. Salah satu pelajaran penting adalah "menghargai orang lain". Pelajaran ini tentunya sudah aku dapat dari sejak aku masih kecil, dan aku sangat beruntung, bisa mendapatkan contoh nyata selain dari orang tuaku. 

Di sini ini, aku bisa melihat, bagaimana Bapak "memperlakukan" orang-orang di sekeliling. Tamu-tamu datang dari berbagai kalangan, semua diperlakukan dengan sama, sopan, santun, dan ramah. Menemui mereka dengan senyum dan  awal kata "Assalamu'alaikum"  atau "Apa kabar?" serta menjabat tangan dengan hangat. Atau menyapa orang-orang di lift, di tempat parkir, di rumah makan, di mesjid, atau ditempat-tempat lain dengan kata yang sama dan  jabatan tangan.  Itulah silaturahmi.

***

Waktu pun berjalan, 1,5 tahun berlalu sudah.  Di tahun 1998, satu kesempatan Bapak menduduki jabatan sebagai Menteri Koperasi  Usaha Kecil dan Menengah. Ada satu kalimat  diucapkan Bapak dalam pidato pertamanya di hadapan seluruh pejabat dan staf Departemen tersebut, "Apakah jabatan ini anugerah atau amanah?" Bagi Bapak, jabatan itu adalah Amanah, sebagai kewajiban yang harus dijalankan atas  kepercayaan yang telah diberikan kepadanya.  Amanah, kata-kata itu yang  menjadi bekalku. 

Banyak yang aku pelajari disini, tentang Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Petani, Nelayan, dan hal-hal lain yang lebih berorientasi ke rakyat. Bidang yang pas buat Bapak. Dan dalam masa ini, hingga kini, aku lebih bisa mengenal orang secara pribadi. Mana teman yang datang karena "kebutuhannya" saja, dan mana teman yang "benar-benar teman", lebih jelas terlihat, sempat terucap tentang hal ini kepada Bapak, dan Bapak mengingatkan : Kita lahir berbeda antara satu dengan yang lain, hargai perbedaan, namun jangan ikuti perbedaan yang bisa merusak ahlak dan martabat. 


***

Bapak, ketika Bapak menawarkan aku untuk tetap di Departemen Koperasi atau pindah ke  Bio Farma sebelum serah terima jabatan di Departemen Koperasi. Dengan tegas aku menjawab, "Tidak, Saya ikut Bapak."  Jawaban itu meluncur begitu saja, aku tidak mempersiapkan jawaban karena pertanyaan itu tidak terlintas dalam pikiranku. Spontanitas terjadi karena aku merasa nyaman. Nyaman untuk terus bersama dengan Bapak. (jujur, tidak terbayangkan bagaimana kalau saat itu justru Bapak tidak mau aku dampingi  ? )

Bapak bertanya : "Anda mau berkantor dimana ?"  Aku bingung dengan pertanyaan Bapak. "Saya tidak punya kantor. Minggu ini kita berkantor di mobil saja, sambil cari kantor baru", lanjut Bapak sambil tertawa.  

Dan sisa waktu seminggu sejak tanggal 26 Oktober itu, agenda Bapak adalah silaturahmi, ke Kantor ICMI, Habibie Center, Republika, PT Techno Graha, PPA, juga  kunjungan ke para sahabat. Kita sempat berkantor di BNI 46, waktu itu Kantor Habibie Center (awal THC terbentuk).  Kemudian ke Kantor Ibu Dewi Soeprapto, PT Techno Graha, di Permata Plaza, JL. MH Thamrin.  Dulu Bapak pernah menjabat di perusahaan ini, dan melepaskannya ketika menjadi Menteri Koperasi.

November pertengahan 1999,  Bapak mengajakku ke satu gedung di kawasan Menteng, tepatnya Jalan Agus Salim 117. Satu tempat yang sangat strategis, dengan cat kuning. "Gedung ini milik Pak Jo, Saya diberikan kesempatan untuk berkantor di sini." itu gambaran yang Bapak berikan tentang gedung ini.
"Kok bisa Pak Jo memberikan kesempatan seperti itu ?"  tanyaku.
"Saya bersilaturahmi dengan Pak Jo, beberapa waktu yang lalu." jawab Bapak sambil tersenyum.  Alhamdulillah ... Back to Silaturahmi, arti, makna, dan hikmahnya.

Sejak Bapak berkantor disana, dan sampai hari ini, Kantor itu disebut dengan GEDUNG KUNING. Di sana lahir Yayasan Indonesia Bangkit. Gerbang Tani Makmur, Jaring Global Nusantara, Jaring Kedai Nusantara, Jaring Telematika Nusantara, dan lain-lain. Dari sana pelajaran dan pengalaman baru lahir, menjadi bekal hingga hari ini. (Dear Pak Jo, Bu Lies, personally, I would like to thank you very much, I got valuable lesson, knowledge and experience)

Aku ingat, ketika Bapak memintaku untuk menjadi salah satu calon legislatif di Partai Merdeka. Padahal Bapak tahu,  aku tidak tertarik dengan bidang itu dan tidak berambisi. Bapak  memintaku untuk masuk dan berkata : "turunlah ke masyarakat, saya tidak meminta Rena untuk "jadi", tapi untuk mendapatkan pengalaman bagaimana caranya  menyentuh rakyat, ketahui apa yang mereka butuhkan, dan bantu apa yang mereka butuhkan. Satu kunci utamanya adalah Ikhlas dan Amanah"   


***

Bapak, setiap hari Jum'at jika sholat Jum'at di Kantor (Di Gedung BBD Plaza), sebelum berangkat Bapak meminta aku mengeluarkan sejumlah dana dengan jumlah yang tidak sama. Dan setiap Bapak pulang sholat, selalu ada  yang mendampingi Bapak, kadang dengan orang yang lama atau orang baru. Dan sesampainya di Kantor, Bapak akan bilang : "tolong siapkan ya Ren, terima kasih". Aku mengerti apa yang disampaikan Bapak, dan menyerahkan titipan Bapak kepada mereka. 

"itu adalah kendaraan kita ke akherat." Kata Bapak. 

Mereka selalu datang, datang, dan datang lagi. Dengan orang yang sama, berbeda, bahkan membawa orang lain. Mungkin orang yang melihatnya akan bosan. Jujur, ada pula yang suka menggerutu (kenapa mereka menggerutu ?). Tapi Bapak akan turun mendatangi mereka jika sempat, mengucap salam, berjabat tangan, dan memberikan apa yang mereka perlukan atau memintaku untuk turun dan menyampaikan amanatnya.  Dihitung dari nominal, tidak seberapa, tapi aku melihat sinar mata kebahagiaan dari mereka. 

Suatu saat, aku pernah mendengar gerutuan seseorang tentang itu di saat aku tidak mendampingi Bapak. Aku paham, Dia tidak cukup mengenal baik Bapak. Itu saja. 

***

Bapak, ingat ketika aku bilang bahwa ada orang yang tidak jujur kepada Bapak ? Bukan karena aku menerima pengaduan orang, tapi karena aku yang mengalaminya. Aku kesal, marah, merasa dipecundangi (kenapa jadi aku yang marah ?). 

Bapak mendengarkan semua pembicaraanku, menanyakan dan mengomentari beberapa point. Dan ketika aku tanyakan apa yang akan Bapak lakukan, Bapak tersenyum, dan berkata  : "Biarkan saja, waktu itu dia  tidak amanah, Allah tahu apa yang harus dilakukan atas perbuatannya." Aku tertegun, speechless. How's coming ??? 

Dan ketika orang itu datang lagi berkunjung ke kantor, Bapak bersikap hangat dan tenang seperti biasanya, seakan tidak pernah ada pembicaraanku tentangnya. Bapak memperhatikan sikapku yang kurang manis dan menghampiriku dan berbisik : "senyum Ren, senyum itu adalah ibadah"  Huhuhu Bapak .... !!

***

2010 lalu, aku belajar banyak bertani, dan sekaligus menjadi petani. Tadinya kupikir, aku akan duduk manis menandatangani setiap perjanjian antara perusahaan dengan kelompok tani, tapi ternyata Bapak menguasakan pengurusan sepenuhnya untuk turun dan bertani. Padahal Pak, waktu itu aku juga kontrak dengan perusahaan lain yang bergerak di bidang  fashion dan entertine (maaf aku tidak pernah bilang tentang ini). Dua bidang yang bertolak belakang.

Terbayang ketika aku harus belajar tentang bibit jagung, padi, kedelai, gandum, dan sorgum, belajar tentang pupuk organik dan non organik, tentang pestisida, membuat budget per hektar setiap tanaman, membuat cashflow dengan ribuan hektar, menghadapi para petani,  juga aparat desa dan pejabat instansi setempat . It's so amazing.

Bapak senang dengan usahaku mempelajari bidang ini, membaca, berhitung dan  berkomunikasi. Bapak bilang : "tentang pertanian dan komunikasi, banyak literatur yang bisa dipelajari, tapi berhadapan dengan petani dan aparat di sana, tidak seperti itu caranya. Sumbernya di diri kita, di Rena, bagaimana caranya agar petani merasa nyaman menyambut dan menerima kedatangan kita dengan senyum, bukan dengan spanduk penolakan."

***


------------> Bersambung

Sunday, 14 August 2016

Pak Misiran


Pak Misiran, mendampingi Pak Adi Sasono dari tahun 1972, 44 tahun berlalu, sebagai salah satu saksi hidup perjuangan Bapak dalam menjalankan visi,  misi dan amanahnya, mendampingi Bapak dalam dalam perjalanan, menjaga keselamatan Bapak, memperhatikan kesehaatan Bapak .... Satu diantara yang mengerti tentang Bapak.

Pak Mis, tidak ada pertanyaan lagi :

- "Kemana kita Pak ?" Yg akan Pak Mis lontarkan setiap Bapak memasuki mobil. 
-"Mbak Ren, acara Bapak besok apa?" Setiap meninggalkan kantor di sore hari.
-Mbak Ren, makalah Bapak mana ? Setiap bapak jadi pembicara.
-"Tolong ke kamar saya" Setiap memanggil kami untuk menghadap Bapak di ruangan. 
-'Apa Kabar?" Setiap Bapak bertemu dgn orang-orang atau memulai percakapan di telepon.

Kata "Tolong" yg diucapkan Bapak setiap kami diminta utk melakukan sesuatu adalah satu penghargaan buat kami.

Sepenggal kalimat pendek yg menjadi kebiasaan kita, yang akan selalu mengingatkan kita kepada Bapak.

Silaturahmi kita tidak akan terputus 馃槆馃槆 Aamiin YRA

14 Agustus 2016

Friday, 5 August 2016

Change My Pattern ?


Many friends and  sometimes some clients say hello what did I do in midnite or before dawn still  online in social networks. And they will be even more strange, when the emails was sent more often ahead early in the morning. And they ask what time I slept, and at what time I woke up.

I'm trying to better manage time more normal than usual. Indeed nothing has changed lately, probably about 4 months. Some problems come up and had me finish so as not to drag on. My time is wasted by thinking hard. Sometimes thinking about affairs office, work, personal, and even about the future. All like to be one.

And I lost time for myself.

I feel comfortable working at night. As if inspiration and creativity came in stronger compared to daytime. During the day if not friendly, but I don’t waste time with useless. When the idea came about during the day, and at night would be a friend to realize the idea.

But this situation has been the question remains which always should I answer properly. More regular life and changing lifestyles had become a particular concern. Think again and again, it seems like I should

I tried to look for patterns to suit my needs. There is a need me for here. Personal life, family, work, religious, and social relationships. All I have to order it well.

I believe there are things that should be prioritized. It is not hard to figure out what should be a priority and followed by a subsequent order. I tried to look around, ask myself, what is a priority.

I did't find the trouble to get it. I'm sure what the priorities were, the family. Back to myself, what am I doing so far is for the family. Sometimes I think, when I wake up I had in mind was working. And I focus on working and looking for markets to get clients. My time spent on thinking, and there is the loss of my time. The time I spend at work and earn income, and the income for the family, but if I had to let go of attention to them just because my time is more outside and my mind drifted everywhere. And even I lost time for myself. I was shackled with agendas that I made myself.

No more. Flashback is useful, see the points of weakness and strength make.

I argued that I would start in the morning, as a step to get started. I'd better spend some personal time for yourself before work, until I felt comfortable with the morning.

Do you know that I need time for myself ?

Thursday, 28 July 2016

Mengenali Suatu Affair Yang Bisa Merusak Hubungan



Lebih baik percaya bahwa  “Affair” dapat memperkuat hubungan utama Anda, jika dilakukan secara terbuka dan bijak sehingga bisa menanamkan semangat dalam hubungan itu. Namun jika hubungan tersebut dirahasiakan, kerahasiaan itulah yang akan menjadi konflik. 

Satu survey yang dilakukan oleh  Relationup, menyebutkan bahwa Affair merusak hubungan sebagai urusan fisik.

Ada 7 Affair yang mendatangkan malapetaka pada hubungan Anda:

1. Kerahasiaan:

Affair sering bersifat rahasia. Satu komunikasi tanpa diketahui oleh pasangan, dan kebohongan-kebohongan muncul untuk menyembunyikan interaksi.  Hal ini menimbulkan gairah dengan lahirnya rahasia yang diciptakan. Gairah itu miliknya. Timbul rasa ketergantungan tanpa disadari.  Adrenalin meningkat ketika menjalani masa-masa rahasia, dan menimbulkan berkurangnya rasa percaya dan merusak keintiman Anda dengan pasangan.

2. Meminimalkan:

Jika terjadi Affair seringkali tidak terbuka, baik tentang sifat, waktu dan materi pembicaraan. Dan pada akhirnya mereka percaya dengan dengan kebohongan yang telah diciptakannya sendiri dalam menceritakan sejauh mana keterlibatan mereka. Jika suatu Affair ditemukan, akan terjadi konfrontasi, minimalisasi kebohongan. Ada perilaku pembelaan untuk menjaga kebohongan dan bahkan akan terjadi satu perbuatan yang membuat pasangan Anda bersalah karena perasaan cemburu. 

3. Pengkhianatan:

Perasaan aman dan  kepercayaan akan  terkikis ketika pasangan tersandung pada fakta bahwa kekasihnya memiliki kepercayaan baru, dan dia sendiri tidak mengetahui apa-apa. Saat inilah pasangan akan menajdi detektif untuk mencari kebenaran. Tuduhan dilontarkan dan pengintaian dimulai. Akan lebih menjadi buruk jika ada riwayat perkhianatan sebelumnya. 

4. Efek Bola Salju

Urusan emosional sering dimulai dengan polos, namun akan berjalan ke arah yang lebih berbahaya dari waktu ke waktu. 

5. Memperkuat negatif

Seseorang yang sedang berada dalam kondisi “Affair”, akan terjadi satu penilaian yang kontras antara Pasangan dengan Partner Affair. Pada saat itu, Pasangan tidak terlihat baik dibanding partner Affair karena tidak ada beban dalam hubungan mereka.  Unsur negatif yang ditimbulkan karena ketidakpuasan akan membuat perpecahan hubungan itu sendiri.

6. Menempatkan energi di tempat yang salah

Affair menghabiskan waktu  dan upaya dari hubungan sehingga menimbulkan produktivitas untuk menempatkan energi yang menuju perbaikan satu hubungan.

7. Sharing diri

Affair melibatkan berbagi pengalaman seseorang dan perasaan. Bahkan sebagian menganggap menjadi lebih intim di banding dari keintiman fisik. 

Catatan : 

Pasangan Anda tidak harus menjadi satu-satunya orang dalam hidup Anda yang mampu memenuhi kebutuhan emosional Anda. Bahkan, hubungan yang lebih sukses dan sehat ketika masing-masing pasangan dijaga  oleh teman-teman yang mendukung dan diluar pasangan . Tapi ini hanya bekerja selama persahabatan dilakukan dengan  transparan dan tulus. Dengan cara ini, mereka akan terus meningkatkan kehidupan Anda dan tidak mengikis hubungan Anda. Jika ternyata pasangan Anda tidak dapat menangani Anda memiliki bagian dari hidup Anda yang hanya Anda, itu sesuatu yang lain untuk ditangani

--
Disadur dari mindbodygreen.com

Monday, 25 July 2016

Memahami Aturan Hukum Tentang "Pengalihan Saham"

Pasal 56 & Pasal 57 Uu 40/2007 (Pemindahan Hak Atas Saham) & Pasal 125 Uu 40/2007 (Pengambilaalihan).

Seri : Perseroan Terbatas.


Oleh : MJ WIDIJATMOKO


I. PENDAHULUAN.

     UU 40/2007 tentang Perseroan Terbatas mengatur 2 hal ketentuan aturan tentang cara "PENGALIHAN SAHAM" dalam PT, yaitu :
1. Pemindahan hak atas saham yang diatur dalam pasal 56; dan
2. Pengambilalihan Perseroan Terbatas yang diatur dalam pasal 125.

     Pasal 56 ayat 1 & ayat 2 menetapkan bahwa 
"Pemindahan hak atas saham dilakukan dengan akta pemindahan hak; Akta pemindahan hak sebagaimana dimaksud pada ayat 1 salinannya disampaikan secara tertulis kepada Perseroan". 

Selanjutnya pasal 57 ayat 1 menetapkan bahwa, dalam AD PT dapat diatur persyaratan mengenai pemindahan hak atas saham, yaitu :
a. keharusan "menawarkan terlebih dahulu" kepada "pemegang saham dengan klasifikasi tertentu" atau "pemegang saham lainnya";
b. keharusan mendapatkan "persetujuan terlebih dahulu" dari "Organ Perseroan"; dan/atau 
c. keharusan mendapatkan "persetujuan terlebih dahulu dari instansi yang berwenang" sesuai peraturan perUUan.

Sedangkan pasal 125 ayat 1, 2, 3, & ayat 4 menetapkan bahwa, "Pengambilaalihan dilakukan dengan cara pengambilalihan saham yang telah dikeluarkan dan/atau akan dikeluarkan oleh Perseroan melalui Direksi Perseroan melalui Direksi Perseroan atau langsung dari pemegang saham; Pengambilalihan dapat dilakukan oleh badan hukum atau orang perseorangan; Pengambilalihan adalah pengambilalihan saham yang mengakibatkan beralihnya pengendalian terhadap perseroan tsb; Dalam hal pengambilalihan dilakukan oleh badan hukum berbentuk perseroan, Direksi sebelum melakukan perbuatan hukum pengambilalihan harus berdasarkan keputusan RUPS yg memenuhi kuorum kehadiran dan ketentuan tentang persyaratan pengambilan keputusan RUPS sebagaimana dimaksud dalam pasal 89.

     Dari ketentuan pasal 125 tentang pengambilalihan terlihat jelas pembentuk UU menghendaki mengatur "ketentuan khusus" dalam hal terjadi pengambilalihan "perseroan terbatas" yang dilakukan dengan pemindahan hak atas saham "mayoritas" sesuai aturan hukum yang berlaku terhadap suatu perseroan terbatas yang akan menyebabkan terjadinya "peralihan pengendalian perseroan terbatas" oleh pemegang saham baru yang mengambilalih "kepemilikan saham" dalam suatu perseroan terbatas.

menjadi pertanyaan : APA BEDANYA PENGALIHAN SAHAM MELALUI "PEMINDAHAN HAK ATAS SAHAM" PASAL 56 & PASAL 57 DENGAN "PENGAMBILALIHAN PERSEROAN TERBATAS" PASAL 125 DALAM UU 40/2007 ?

II. PEMINDAHAN HAK ATAS SAHAM PERSEROAN TERBATAS & PENGAMBILALIHAN PERSEROAN TERBATAS.

A. PEMINDAHAN HAK ATAS SAHAM PERSEROAN TERBATAS.

     Setiap "pemindahan hak atas saham" dalam perseroan terbatas "harus dilakukan" dengan "Akta Pemindahan Hak" & Akta Pemindahan Hak atas Saham atau salinannya disampaikan secara tertulis kepada Perseroan. demikian ketentuan pasal 56 ayat 1 & ayat 2. 
Penjelasan pasal 56 ayat 1 menerangkan  yang dimaksud dengan "AKTA" adalah baik berupa akta yang dibuat didahapan notaris maupun akta dibawah tangan. Dengan diberitahukannya "pemindahan hak atas saham" yang dimuat dalam "akta pemindahan hak atas saham" tsb, kemudian Direksi Perseroan wajib mencatat pemindahan hak atas saham, tanggal, & hari pemindahan hak tsb dalam "Daftar Pemegang Saham" & "Daftar Khusus" (ps 50 ayat 1 & ayat 2) & memberitahukan "perubahan susunan pemegang saham" kepada Menteri (Menkumham) untuk dicatat dalam "Daftar Perseroan" paling lambat 30 hari terhitung sejak tanggal pencatatan pemindahan hak atas saham tsb, dalam hal "pemberitahuan" tsb (ps 56 ayat 3) "belum dilakukan, maka Menteri "menolak" permohonan "persetujuan atau pemberitahuan" yang dilaksanakan berdasarkan susunan & nama pemegang saham yg belum diberitahukan tsb, sedangkan mengenai tatacara pemeindahan hak atas saham yang diperdagangkan di Pasar Modal diatur dalam peraturan perUUan di bidang pasar modal.

Dari ketentuan pasal 56 tahapan yang harus dilakukan dalam hal terjadi "pemindahan hak atas saham" adalah sbb :

1. pemindahan hak atas saham harus dibuat & dibuktikan dengan akta, baik dengan akta Notaris, atau dengan akta dibawah tangan;
2. pemindahan hak atas saham & akta pemindahan hak atas saham "wajib" diberitahukan kepada Perseroan oleh para pihak yg melakukan transaksi peralihan hak atas saham;
3. Direksi Perseroan yang menerima "pemberitahuan" tsb "wajib/harus" mencatat "pemindahan hak atas saham & akta pemindahan hak atas saham" tsb yang sah menurut AD PT & UU PT ke dalam "Daftar Pemegang Saham" & "Daftar Khusus" yang terdapat dalam PT;
4. Direksi Perseroan setelah mencatat "pemberitahuan pemindahan hak atas saham tsb, "wajib/harus" melakukan "pemberitahuan" kepada Menteri max 30 hari terhitung sejak "pencatatan pemindahan hak atas saham tsb dalam Daftar Pemegang Saham & Daftar Khusus dalam PT. Pencatatan pemindahan hak atas saham tsb dibuktikan dengan Direksi "menerbitkan & mengeluarkan" bukti pencatatan tsb yaitu dengan adanya "Salinan dari Daftar Pemegang Saham & Salinan dari Daftar Khusus";
5. Menteri "mencatat" pemindahan hak atas saham yg telah dicatat oleh Direksi Perseroan dalam Daftar Pemegang Saham & Daftar Khusus dalam PT & "mencatat" perubahan susunan & nama pemegang saham" ke dalam "Daftar Perusahaan", apabila Direksi PT belum mencatat pemindahan hak atas saham tsb maka Menteri "berhak menolak" mencatat dalam Daftar Perusahaan.

Menjadi pertanyaan : 

1. Apakah Dalam Praktek Pemindahan Hak Atas Saham Yang Terjadi Saat Ini Sudah Dilakukan Sesuai Prosedur & Tatacara Yang Ditetapkan Dalam Pasal 56 ? Apa Akibat Hukum Nya Bila Prosedur & Tatacara Yg Ditetapkan Dalam Pasal 56 Ayat 3 Tidak Dilakukan Oleh Direksi Perseroan ?

2. Bagaimana Dengan Sistem Administrasi Badan Hukum (Sabh) ? Apakah "Pemberitahuan Pemindahan Hak Atas Saham Ke Dalam Sabh" Adalah Merupakan "Registrasi Pemindahan Hak Atas Saham Dalam Daftar Perusahaan Yang Dimaksud Dalam Pasal 56 Ayat 4 ?

Responsive Full Width Ad

YOUR RESPONSIVE AD CODE
Copyright © 2016 MsReina's Note, powered by Blogger.