Menu Right

Top Social Icons

Slider Area 1

Slider Area 2

Slider Area 3

Responsive Full Width Ad

YOUR RESPONSIVE AD CODE
Left Sidebar
Left Sidebar
Featured News
Right Sidebar
Right Sidebar

Latest Updates

NOTARIS

PENANAMAN MODAL ASING

CERITA

DIARY

CAREER

YOUR RESPONSIVE AD CODE

PARENTING

RELATIONSHIP

GOOD STORY

YOUR RESPONSIVE AD CODE

RELIGIUS

WISATA

BERITA

Monday, 26 September 2016

Sang Penggerak

Friday, 23 September 2016

Sosialisasi PP Nomor 29 Tahun 2016 Tentang Perubahan Modal Peseroan Terbatas













Resume PP Nomor 103 Tahun 2015 Pemilikan Rumah Tinggal oleh Warga Negara Asing



Sebelum berlakunya PP No. 103 Tahun 2015, ketentuan tentang pemilikan tanah bagi Warga Negara Asing diatur dalam :
  • Pasal 42 dan 45 UUPA, No. 5 Tahun 1960;
  • Pasal 39 PP No.  40 Tahun 1996 tentang HGU, HGB, dan Hak Pakai Atas Tanah 
  • PP NO. 41 Tahun 1996, Tetang Kepemilikian Rumah Tinggal atau Hunia oleh Orang ASing yang berkedudukan di Indonesia
  • Permen Negara Agraria/Kepala BPN No. 7 tahun 1996 tentang Persyaratan Pemilikan Rumah Tempat Tinggal atau Hunian Oleh Orang Asing 
  • Permen Agraria No. 8 Tahun 1996, tentang Perubahan Permen No. 7 Tahun 1996
  • Undang-undang Nomor 20 Tahun 2011, tentang Rumah Susun
Dengan berlakunya PP No. 103 Tahun 2015, maka ketentuan tersebut di atas dinyatakan tidak berlaku. 

Siapa yang dimaksud Orang Asing  ?

Pasal 1 ayat (1) 

Orang Asing yang Berkedudukan di Indonesia yang selanjutnya disebut Orang Asing adalah orang yang bukan Warga Negara Indonesia yang keberadaanya memberikan manfaat, melakukan usaha, bekerja, atau berinvestasi di Indonesia. 

Pasal 2 ayat (2)

Orang Asing pemegang izin tinggal di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 
Dari kedua pasal tersebut disebutkan dengan jelas bahwa Orang Asing tersebut harus melakukan usaha, bekerja atau berinvestasi di Indonesia dan mempunyai izin tinggal di Indonesia. Penulis menarik benang merah antara PP tersebut dengan PP Nomor 44 Tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha Yang Tertutup Dan Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan Di Bidang Penanaman Modal. PP No 44 Tahun 2016 tersebut kesempatan investasi yang lebih luas  kepada para investor asing dengan salah satu fasilitas kepemilikan rumah hunian kepada orang asing dengan persyaratan tertentu.

Objek Property Orang Asing
  • Rumah Tunggal adalah rumah yang mempunyai kaveling sendiri dan salah satu dinding bangunan tidak dibangun tepat pada batas kaveling. 
  • Satuan Rumah Susun yang selanjutnya disebut Sarusun adalah unit rumah susun yang tujuan utamanya digunakan secara terpisah dengan fungsi utama sebagai tempat hunian dan mempunyai sarana penghubung ke jalan umum. 

Berdasarkan Pasal 2 Peraturan Menteri ATR/Kepala BPN Nomor 13 tahun 2016, Rumah Tunggal dan Sarusun tersebut pembelian baru/unit baru berupa bangunan baru yang dibeli langsung dari pihak pengembang/pemilik tanah dan bukan merupakan pembelian dari tangan kedua dengan harga minimal  :

Rumah Tunggal
  • DKI Jakarta Rp 10 miliar
  • Banten Rp 5 miliar
  • Jawa Barat Rp 5 miliar
  • Jawa Tengah Rp 3 miliar
  • Yogyakarta Rp 3 miliar
  • Jawa Timur Rp 5 miliar
  • Bali Rp 3 miliar
  • Nusa Tenggara Barat Rp 2 miliar
  • Sumatera Utara Rp 2 miliar
  • Kalimantan Timur Rp 2 miliar
  • Sulawesi Selatan Rp 2 miliar
  • Daerah lainnya Rp 1 miliar
Sarusun
  • DKI Jakarta Rp 5 miliar
  • Banten Rp 1 miliar
  • Jawa Barat Rp 1 miliar
  • Jawa Tengah Rp 1 miliar
  • Yogyakarta Rp 1 miliar
  • Jawa Timur Rp 1,5 miliar
  • Bali Rp 2 miliar
  • Nusa Tenggara Barat Rp 1 miliar
  • Sumatera Utara Rp 1 miliar
  • Kalimantan Timur Rp 1 miliar
  • Sulawesi Selatan Rp 1miliar
  • Daerah lainnya Rp 750 Juta
Dalam kedua peraturan tersebut tidak diberikan pembatasan tentang jumlah rumah tinggal atau sarusun yang dapat dimiliki oleh Orang Asing sebagaimana pernah diberlakukan di dalam PP nomor 41 tahun 1996  (PP 41)   pasal 1 ayat (1) ditentukan bahwa “Orang Asing yang berkedudukan di Indonesia dapat memiliki sebuah rumah tinggal untuk tempat tinggal atau hunian dengan hak atas tanah tertentu”.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Orang Asing dapat memiliki lebih dari satu rumah tinggal atau sarusun.

Sifat-sifat Hak Atas Tanah Orang Asing
  • Dapat beralih dan/atau dialihkan kepada Pihak lain
  • Dapat diwariskan;
  • Dapat dibebani hak tanggungan
  • Bukan merupakan harta bersama yang  yang dibuktikan dengan perjanjian pemisahan harta antara suami dan istri, yang dibuat dengan akta notaris. 
Hak Atas Tanah untuk Property Orang Asing
Pasal 4 PP No. 103 Tahun 2015 jo Pasal 1 ayat (2)  Permen ATR/Ka BPN

Rumah tinggal : Hak Pakai atas tanah Negara, Hak Pengelolaan, Hak Pakai di atas Hak Milik yang dikuasai berdasarkan perjanjian pemberian Hak Pakai di atas Hak Milik dengan akta Pejabat Pembuat Akta Tanah. 
Sarusun yang dibangun di atas bidang tanah Hak Pakai atas tanah Negara atau Hak Pengelolaan. 

Dari kedua ketentuan tersebut tidak disebutkan adanya ketentuan yang mengatur tentang kepemilikan berdasarkan hak sewa sebagaimana tercantum dalam PP Nomor 40 Tahun 1996 

Jangka Waktu 

Pasal 6 PP 103 Tahun 2015 (atas tanah Hak Pakai) 
  1. Rumah Tunggal yang diberikan di atas tanah Hak Pakai diberikan untuk jangka waktu 30 (tiga puluh) tahun. 
  2. dapat diperpanjang untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun. 
  3. Dalam hal jangka waktu perpanjangan berakhir, Hak Pakai dapat diperbaharui untuk jangka waktu 30 (tiga puluh) tahun. 

Pasal 7 PP 103 Tahun 2015 (atas tanah Hak Milik)
  1. Rumah Tunggal di atas tanah Hak Pakai di atas Hak Milik yang dikuasai berdasarkan perjanjian sebagaimana diberikan Hak Pakai untuk jangka waktu yang disepakati tidak lebih lama dari 30 (tiga puluh) tahun. 
  2. Hak Pakai dapat diperpanjang untuk jangka waktu paling lama 20 (dua puluh) tahun sesuai kesepakatan dengan pemegang hak atas tanah. 
  3. Dalam hal jangka waktu perpanjangan sberakhir, Hak Pakai dapat diperbaharui untuk jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) tahun 

Berakhirnya Hak Orang Asing 
Pasal 10 PP o. 103 Tahun 2015 Jo Pasal 6 Perman ATR/Ka BPN
  1. Apabila Orang Asing atau ahli waris yang merupakan Orang Asing yang memiliki rumah yang dibangun di atas tanah Hak Pakai atau berdasarkan perjanjian dengan pemegang hak atas tanah tidak lagi berkedudukan di Indonesia, dalam jangka waktu 1 (satu) tahun wajib melepaskan atau mengalihkan hak atas rumah dan tanahnya kepada pihak lain yang memenuhi syarat. 
  2. Apabila dalam jangka waktu 1 (satu) tahun belum dilepaskan atau dialihkan kepada pihak lain yang memenuhi syarat: 
  • rumah di lelang oleh Negara, dalam hal dibangun di atas tanah Hak Pakai atas tanah Negara; 
  • rumah menjadi milik pemegang hak atas tanah yang bersangkutan, dalam hal rumah tersebut dibangun di atas tanah berdasarkan perjanjian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 1 huruf b. 

3  Hasil lelang menjadi Orang Asing/Ahli Waris, setelah dikurangi dengan biaya lelang serta barang atau biaya lain yang telah dikeluarkan. 

Perjanjian Pemisahan Harta dalam Kepemilikan Rumah Hunian atau Sarusun oleh Orang Asing

Pasal 3 
  1. Warga Negara Indonesia yang melaksanakan perkawinan dengan Orang Asing dapat memiliki hak atas tanah yang sama dengan Warga Negara Indonesia lainnya. 
  2. Hak atas tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), bukan merupakan harta bersama yang dibuktikan dengan perjanjian pemisahan harta antara suami dan istri, yang dibuat dengan akta notaris. 
Dengan adanya Perjanjian Pemisahan Harta (Perjanjian Perkawinan)  maka Warga Negara Indonesia tersebut tetap dapat memiliki tanahnya tersebut sama seperti dengan Warga Negara Indonesia lainnya.







20 Questions To Ask That Will Reveal A Person’s True Self



In life, we all just want someone to know us, to hear us, and to appreciate us. We want someone to listen to our crazy stories and philosophies at 3AM, call us just to say hello, and ask us those questions that other people didn’t. We just want someone to understand us, but not many people take the time to. In today’s fast-paced world where people have more distractions than ever, listening and even being interested in others seems to be fading quickly.
“People are attracted to good listeners, and they complain that there aren’t that many of them around these days. People are also skilled at telling a real from a phony, meaning someone who is really listening or someone who is just pretending to be listening. The bottom line is, one of the skills we need to learn when we want to connect to someone on a deep level is to learn to listen to them empathetically. Empathic listening means we put all of our baggage, distraction, need to control and beliefs as to how things “should” be outside of the interaction and attend fully to the person we are listening to. In other words, it will be about them, not us.”
If you really want to get to know someone on a deep level, the following questions can help.

20 QUESTIONS TO ASK SOMEONE THAT WILL REVEAL THEIR TRUE SELF

1. What’s your life motto, or philosophy you live by? 
They might answer with something simple like “Hakuna Matata,” or maybe they will have a more in-depth answer. However, this question will allow you to get to know their basic outlook on life. Do they have a negative or positive view of the world, and how do they react to it?
2. What’s your favorite thing about yourself?
This will show you their self-esteem levels. If they can’t think of anything, this shows they don’t have a very positive self-image. If they do have an answer, however, it will show you what they think about themselves.
3. Do you follow a religion or spiritual practice?
This question may seem generic, but getting to know someone’s spiritual beliefs will allow you to see if you have compatibility with this person.
4. What was the best time of your life?
Again, the point is to show your interest in every aspect of their life. This question will let you into their past a little bit.
5. What was the worst thing that ever happened to you?
This might seem a bit dark, but to fully know someone, we have to know their pain, too.
6. What’s your biggest dream?
Many people, believe it or not, don’t want to share their dreams for fear of rejection. Letting someone open up in this way will make them trust you.
7. What did you want to be when you were a kid?
These types of questions will let you get to know their inner child, which is important in knowing someone deeply.
8. What was/is your biggest accomplishment?
Let them gloat for a minute – allowing someone to share their accomplishments will show that you really care.
9. Why do you think we’re all here?
This might be one of the most contemplated questions ever, but it’s worth asking. Their answer might give you a new perspective.
10. What was your best relationship?
This might reopen old wounds, but if they don’t want to answer, they’ll tell you. This question will show you an important part of their past.
11. If you could change one thing about the world, what would it be?
This will show you what motivates them, and what they truly care about in the world.
12. Do you like your job? If not, what would you like to do instead?
Unfortunately, many people dislike their jobs. However, this question might open them up to new possibilities.
13. What are your favorite hobbies?
Basically, this shows you how they spend their free time, which is important in getting to know someone.
14. If money was no object, what would you do in life?
This will show you what the person would do if they had freedom to spend their time how they chose to.
15. Have you ever broken someone’s heart?
Relationships are important in someone’s life, and this will let you get to know them on a more intimate level.
16. What are you thankful for?
This will tell you what they value most in life.
17. What do you wish people understood more about you?
Many people feel misunderstood, and this will show you why they might feel this way.
18. If you could turn back time and do anything differently, would you?
This will tell you if the person has any regrets, and why.
19. What’s the craziest, or most exciting thing you’ve ever done?
People love to share their memories of fun times, and it’s a great way to get to know someone’s life.
20. What do you think about most often?
People just want to share what’s on their mind, and allowing them a space to do so is the foundation of a great relationship.
Sumber  :  www.notey.com (C)POWER OF POSITIVITY, LLC. ALL RIGHTS RESERVED

Friday, 26 August 2016

5 Tips Untuk Menghadapi Hubungan Yang Tak Pasti


Dalam satu bulan terakhir, Dia tidak sering lagi mengirimkan pesan-pesan manisnya yang sudah jadi rutinitas, atau tidak mengajakmu untuk bertemu walaupun hanya sekedar mampir. Ada sesuatu yang berbeda, dan perasaan muncul, timbul pertanyaan "apakah Dia masih tertarik denganku atau Dia sedang memerlukan waktu untuk sendri ?"   

Jika Anda dalam kondisi ini, apa yang harus dilakukan ? 

Meskipun ini terlalu dini untuk membicarakannya, tapi ada baiknya sebagai bahan untuk mengambil tindakan. 

Plan A. Mengirim pesan kepada Dia, bahwa betapa cemasnya dirimu ? Hal ini akan berdampak, Dia merasa tidak mempunyai ruang dan waktu untuk dirinya sendiri, terlalu protektif, dan ingatlah bahwa tidak semua menyukai satu rutinitas kecil, yang jika terlewati menjadi seperti "Dosa". 

Plan B, memperhatikan profil media sosialnya, dan memperhatikan adanya kehadiran orang lain dalam kehidupan Dia. Jika bukti ditemukan, maka Anda akan menghabiskan berjam-jam bermuram durja atas temuan itu. (Jangan lakukan itu)

Dua rencana tersebut merupakan ketidakmampuan untuk mengatasi perasaan tidak nyaman. Yang mana ketidakpastian dan ambiguitas mengakibakan Anda tidak tahu ada dimana dan sulit untuk menangaganinya. Dan Anda mungkin berpkir, Anda tidak memiliki kapasitas untuk kembali dan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi Anda lakukan.

Ada lima tips untuk membantu Anda mentolerir ketidaknyamanan,  bukannya diperintah oleh itu:

1. Mengakui bahwa itu menyebalkan.

Mungkin Anda percaya diri Anda untuk lebih siap untuk menangani ambiguitas dalam sebuah hubungan daripada Anda sesungguhnya. Anda mungkin berpikir diri Anda sebagai seseorang yang dingin dan tidak perlu hubungan yang ditetapkan. Padahal sebenarnya Anda dapat dengan mudah jatuh kedalam kegagalan ketika terjadi pola perubahan interaksi. Dan Anda mengakui bahwa ini adalah setengah pertempuran diri. 

2. Jaga perasaan Anda.

Anggap saja sebagai satu kesempatan Anda untuk membuat ruang daripada mendorongnya pergi. Ketika merasakan kepedihan, ketidaknyamanan, amati di mana posisi dia dalam diri Anda, dengan emosi tidak nyaman yang mungkin Anda alami dan pikiran menantang yang muncul dalam pikiran Anda. Perasaan itu akan akan berkurang dan hilang.  Perhatikan proses ini, catat secara aktif  saat-saat ketidaknyamanan Anda menurun. Praktek ini merupakan cara meningkatkan kemampuan Anda untuk mengelola setiap situasi yang menantang.

3. Alihkan diri Anda.

Kadang-kadang, Anda hanya merasa kewalahan dengan rasa tidak nyaman, dan menjadi satu moment yang sulit. Lakukan sesuatu  yang kreatif, untuk mengubah keadaan emosi Anda dengan cara yang positif.

4. Carilah dukungan.

Kebanyakan orang merasa terbantu untuk menjangkau teman yang mendukung yang dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan Anda. Kepada teman, sahabat, atau keluarga. Pilihlah dengan seseorang yang memang "dekat", meskipun Anda tahu tidak semua bisa membantu memberikan penyelesaian, tapi paling tidak apa yang menjadi kegundahan dan kecemasan Anda bisa sedikit tercurahkan.
5. Jangan percaya rasionalisasi Anda.

Ketika Anda mencoba untuk mentolerir perasaan Anda, Anda akan mendengar suara hati untuk membujuk Anda untuk meninggalkan pekerjaan Anda dan mengejar rencana kurang optimal tetapi lebih nyaman. Jadilah skeptis, karena Anda dapat dengan mudah meyakinkan diri sendiri bahwa suara itu adalah suara alasan. Periksa logika Anda dengan orang yang objektif sebelum mengambil tindakan.

Ingat, pengalaman pertumbuhan, belajar bagaimana untuk mentolerir ketidaknyamanan emosional menjadi lebih mudah dengan semakin banyak Anda berlatih. Ketika Anda mengembangkan kemampuan lebih besar untuk mengelola emosi Anda, Anda akan melihat diri Anda menjadi lebih banyak akal pada saat-saat sulit dalam hubungan Anda. Dan dengan ketahanan itu, Anda akan menjadi lebih terbuka untuk hidup.

Saduran mindbodygreen.com





Sunday, 21 August 2016

Adi Sasono, In Memorial (Gedung Kuning)



Dear Bapak, 

Ini cerita tentang kantor kita, Gedung Kuning, Jl.Agus Salim 117.
--
Sampai dua tahun  pertama setelah menjabat Menteri, Bapak masih didampingi seorang ajudan, Mas Wahyudi, notabene adalah salah satu staf dari Kementrian Koperasi.  Kehadiran Mas Wahyudi membantu dalam menjalankan tugas, terutama dalam hal protokoler. Waktu setahun lebih menjabat, sebenarnya tidak banyak mempengaruhi kegiatan Bapak dalam menghadiri setiap acara. Dalam arti bahwa, Bapak sudah terbiasa mengatur setiap acara dengan tanpa protokoler, berbeda halnya semasa menjabat, protokoler diperlukan sebagai satu bentuk SOP kerja. 

Ada perbedaan yang cukup menyolok dalam keprotokolan sesudah tidak menjabat. Ketika semasa menjabat, Ajudan harus ke rumah, bersamaan dengan Bapak ke kantor atau ke acara lain, dan pulang bersama Bapak. Tapi setelah menjabat, ajudan cukup datang pagi di kantor, dan pulang setelah bapak pulang. Bapak sangat fleksibel dalam hal ini, jika memang perlu didampingi, Bapak akan minta didampingi, tapi jika tidak perlu, Bapak berangkat sendiri (tentunya dengan Pak Misiran) dan Mas wahyudi bisa membantuku di kantor atau mengerjakan hal yang lain.

Mas Wahyudi, aku yakin Mas mempunyai kesan tersendiri tentang Bapak, baik secara pribadi maupun secara formal. Kebersamaan kita memang tidak lama, tapi tali silaturahmi antara kita insya allah akan terus terjaga. Kepedulian Mas tentang setiap perkembangan Bapak jika aku kabari Mas, atau jika Mas menanyakan kabar Bapak, itu sebagai salah satu ciri silaturahmi kita. Many thanks Mas, Mas sudah menemani kami beberapa waktu yang lalu, doa Kita untuk Bapak, semoga amal Ibadah Bapak diterima disisi Allah Swt. Aamiin YRA.

-- 
Jam kantor 08.30, tapi Bapak sering membuat agenda sendiri, jam 7.30 atau jam 8 sudah ada di kantor untuk menemui tamu. Kadang bilang, kadang tidak. Tapi Bapak konsekwen, karena jam kantor 8.30, aku tidak wajib datang lebih pagi untuk mendampinginya.
  
"Ren, besok Saya janji dengan A, jam 7.30 di Agus Salim. Tolong bilang Kiki siapkan ruangan." 

Kiki, anak kantor yang bantu kami, sudah cukup hapal dengan SOP tidak tertulis. Jika Bapak datang atau tamu datang, selalu lapor melalui telepon.

Bapak, ada guyonan kalau Bapak datang lebih dulu ke kantor. Aku sampai di kantor dengan tergesa-gesa, membuka pintu depan, dan aku temui Yani. "Yan, sekretarisku sudah datang ?" 
(馃檹馃檹 Maaf ya Pak).

#Di Agus Salim, Yani yang membantuku, terutama jika aku ditugaskan keluar, Ada Nur yang bantu Kiki, Ada Ema yang dulu resepsionis, Ada Pak Edi dan Rizal. 
   
--
Gedung Kuning, berlantai dua. Aku hapal sekali jika Bapak datang, menaiki tangga dengan suara hentakan kaki yang khas.  Memasuki ruangan, dengan salam,  pasti melewatiku (wajib lapor☺️). Jika tamu belum datang, Bapak duduk di depan mejaku atau memintaku ke ruangannya. 

Setiap "menghadap" aku selalu membawa buku catatan dan satu pena. Mengapa ?  Aku tidak ingin ada yang terlewat apa yang diminta Bapak (walaupun ga ada yang perlu dicatat, kadang aku menulis catatan kecil tentang pertemuan itu).  

Ada satu kejadian yang membuatku melakukan itu... 

Satu ketika Bapak memanggilku, dengan tangan kosong aku duduk manis di depan Bapak. Bapak bicara bla bla dan aku mengangguk-angguk. Kemudian Bapak bertanya, jadi apa pointnya dari pembicaraan kita barusan ? Aku jawab dengan harapan semuanya benar (waktu itu aku masih cukup muda, dan aku yakin aku mudah untuk mengingat semua pembicaraan Bapak馃檹)

"Kurang dua point Ren, coba ingat-ingat apa yang terlewat"  Aku mengerutkan kening, sepertinya aku sudah benar, tak ada yang terlewat. 

Bapak menghampiriku dan menepuk pundak kiriku. 

"2 yang terlewat. Itu amanat, jika dari 8 amanat terlewat 2 amanat, artinya amanat itu belum disampaikan semua, dan itu dosa."

Halus, tapi tegas. Tak perlu berdebat tentang apa yang terlewat, Bapak mengulang point-point itu, dan ternyata memang 8 point. 

Aku terpekur dan diam. 

--
Tahu Post It kan ? Dulu post it tidak banyak warna seperti sekarang, masih satu warna, kuning. Lebih banyak kertas-kertas polos warna warni berukuran bujur sangkar kecil yang aku siapkan di meja kerja Bapak.  Bapak mencatat nomor-nomor telepon kolega, dan menyalinnya di handphone atau tulisan-tulisan lain yang jujur nyaris tidak terbaca 馃檹馃檹. Aku tidak pernah membuangnya, sampai akhirnya Bapak sendiri yang akan membuangnya.

Tentang nomor telepon itu ada ceritanya, dan banyak manfaat (buatku).

Setiap Bapak bertemu dengan tamu-tamu, terutama dengan yang baru, Bapak akan bertukar kartu nama atau menanyakan nomor telepon dengan nama lengkap atau lembaga atau satu sisi khas mereka. 

"Nama Anda siapa ?" tanya Bapak sambil membuka handphone (HP) dan mencatat nama serta nomor teleponnya. 

#Bapak dulu menyebut handphone itu dengan "telepon tangan" 

Contoh :  

Maidas Balai IB Sapi Lembang
Nur Hidayat Sapi Ass Pedagang Dagimg Imd

- Jadi, "Sapi" itu seperti category. Jika Bapak ada yang perlu bantuan tentang sapi, Bapak tinggal cari "sapi" dikontaknya 馃檹

#Bapak dengan senang hati akan merekomendasikan seseorang yang perlu bantuan, contoh yang berhubungan dengan sapi itu, dengan bekal "salam dari Saya"

Waktu itu HP Bapak Nokia Communicator 9000. Bapak senang dengan HP itu, seperti dapat mainan baru 馃槉, tambah rajin juga mencatat nomor telepon langsung di HP, termasuk kartu nama pun disalinnya.  Ada semacam aplikasi "Note" di sana,  aku tidak menduga, jika Bapak menghadiri rapat-rapat atau diskusi, Bapak mencatat kesimpulan dari hasil pertemuan-pertemuan itu馃槺

Suatu hari HP itu rusak dan aku aku segera memperbaikinya. Ketika sampai di tempat service, aku bertanya, apakah kontak didalam handphone itu bisa diback up dan ditransfer ke handphoneku ? Dan ternyata bisa. Ini manfaatnya, jika Bapak minta aku menghubungi seseorang, aku tidak perlu lagi minta nomor teleponnya ke Bapak (mungkin waktu itu Bapak berpikir, kok pintar sekali, ga diberi nomor telepon tapi sudah bisa tersambung馃榾馃榾)


#sampai saat ini, teman-teman Bapak menganggapku sebagai hardisk Bapak, mereka menganggap aku tahu semua informasi tentang Bapak, tidak hanya tentang nomor-nomor telepon itu, tapi hal-hal lain. "Reina 108"馃榾馃榾

--
Tentang tulisan Bapak yang nyaris tidak terbaca bagi umum 馃檹馃檹 
(percaya ga percaya, tulisanku sekarang mirip dengan tulisan Bapak, dalam arti sukar dibaca orang, dan kadang aku  sendiri harus mengerutkan kening dulu untuk  membacanya lagi馃槺馃槺)

Sebelum menjadi Komisaris Utama di Republika, Bapak pernah menjabat sebagai salah satu dari Dewan Redaksi Republika. Tentunya Bapak sangat paham dengan redaksi penerbitan. Ini berdampak dalam pembuatan makalah jika Bapak diundang sebagai Pembicara. 

Jika ada draft makalah, draft itu bisa berulang-ulang direvisi, apa itu ejaan, susunan kata,  kalimat, tapi yang jadi masalah (buatku), revisi itu dibuat dengan tulisan tangan馃榾馃榾馃檹  Dengan susah payah dan bolak balik aku bertanya ke Bapak, "ini apa pak?" Dan aku akan menuliskan kembali dengan huruf cetak (agar lebih jelas).

Pernah suatu kali, dengan asumsi aku sudah cukup paham dengan materi makalah itu, dan sudah "sedikit" mengenal tulisan Bapak, revisi itu aku langsung aku buat, print, dan aku serahkan ke Bapak. Bapak membacanya, dengan kening berkerut.馃檮

"Ini maksudnya apa ya Ren?" sambil menunjuk arah paragraf yang aku revisi. Dan aku menjelaskan sambil memegang dan membaca draft awalnya. Bapak tertawa dan mengambil draft itu. 

"Dulu ikut Pramuka Ga ?" Aku mengangguk, tak mengerti.
"Pasti siaga juga tidak lulus. Kalau sampai penegak pasti bisa baca tulisan Saya" 

馃檹馃檹 Kelakar seperti itu yang aku suka, jika aku melakukan kesalahan dalam pekerjaan, Bapak tidak pernah menyalahkanku begitu saja.  

Ada satu kalimat Bapak tentang satu hubungan antar kerja :

"Jangan menyalahkan anak buah, karena anak buah akan melaksanakan apa perintah Anda, bagaimana cara Anda memerintahnya, itu  menjadi tanggung jawab Anda";  ❤️❤️

#dan selanjutnya, sandi rumput itu bisa aku baca dengan baik (entah siapa lagi yang bisa membacanya)

--
Ada cerita lucu tentang surat menyurat (apa ini juga dampak sebagai "redaksi":馃榾) 

Secara teori, jika kita membalas surat, pasti akan  menghubungkan dengan nomor surat, tanggal, dan perihal dari surat pengirim. Kadang nomor surat dan perihal bisa menjadikan satu paragraf panjang, apalagi itu kalau itu surat resmi.  Secara naluri  kubuat surat itu sesuai teori. Aku perlihatkan ke Bapak, dengan lampiran surat si pengirim.


"Ren, saya tidak bisa bernafas." Raut wajah Bapak datar, tanpa ekspresi. 

Aku kaget. 
Wah, asma Bapak kambuh, pikirku. "Bapak sakit ?" 
"Iya.. setelah membaca jawaban surat ini."
Ada yang salahkah, pikirku.
"Kenapa dengan surat itu ?"
"Saya sampai tidak bisa bernafas membacanya, karena Saya mencari titik untuk membuat saya berhenti membaca." Bapak tertawa sambil menyerahkan surat itu.
"Tolong betulkan surat itu, jangan buat "kalimat Gajah", ambil intinya saja, dan paragraf terakhir cukup ditutup dengan "Terima Kasih." sebelum salam. 

Dan sejak itu, surat-suratku tidak pernah ada lagi "kalimat Gajah" dan penutup "Atas perhatian Bapak /Ibu bla bla bla... (termasuk surat-surat formal pada pekerjaanku).


---

Bersambung

Tuesday, 16 August 2016

Adi Sasono, In Memorial

Foto : Majalah Kabare

Adi Sasono
16 Februari 1943 - 13 Agustus 2016


Dear Bapak, 

Baru sempat aku tulis catatan tentang hari-hari berlalu yang telah aku lalui bersama Bapak. Bukan satu hal yang sulit untuk mengingat semua yang telah terjadi, aku harus memulai dari waktu 19 tahun yang lalu. Bisa menjadi buku yang berjilid-jilid sepertinya. 

Kemarin-kemarin, seakan tidak ada ide untuk menulis (biarkan orang lain dulu yang bicara dan menulis tentang Bapak), tidak ada semangat untuk melangkah ataupun melakukan sesuatu. Aku terlalu sibuk menghapus air mata yang kadang menetes tanpa terasa, merasakan langkah kaki yang mengambang dan kaku. Aku tidak boleh begini kan Pak ?  

Dan Selasa kemarin, pikiranku mulai sedikit jernih, aku mulai menerima apa yang terjadi. Kepergian Bapak tidak seharusnya menjadikan aku rapuh karena kehilangan sosok seorang Bapak, Guru, Panutan, partner kerja, sahabat, dan sekaligus tempat aku bercerita. Tapi harus diyakini, bahwa bekal yang telah aku terima selama ini,  ilmu, pelajaran dan pengalaman, harus membuat aku lebih tegar, mandiri dan percaya diri. Dan Bapak begitu yakin, bahwa aku mampu menghadapi semua persoalan dan menyelesaikannya dengan baik. Itu suatu tantangan.

Masih teringat dengan jelas ketika aku memulai profesiku sebagai notaris, meninggalkan sejenak hari-hariku bersama Bapak,  dan sekali waktu Bapak bertanya :

"Ren, jadi notaris itu untuk apa ? Biar bisa pasang papan nama di jalan ya atau biar dapat Lambang Garuda ?"  Aku tertawa mendengar pertanyaannya. Dan aku jawab dengan polos, "Biar aku bisa buka warung, bisa mandiri, mengatur waktu sendiri ." 

"Kenapa tidak di Jakarta ?"
 "Di Jakarta sudah close Pak, dan Reina bisa pindah kalau sudah 3 tahun, itu pun kalau di Jakarta masih ada formasi."
"Ya sudah, kita lihat 3 tahun, dan pindah ke Jakarta lagi." 

Dan sekarang, 2 tahun 7 bulan, aku jalani Profesi Notaris, belum genap syaratku untuk pindah ke Jakarta, Bapak telah pergi.  

Satu hal yang tidak pernah luput dari ingatanku. Menjalani tahun-tahun di Jakarta, dan kembali ke Bandung, seolah-olah di Bandung networkku menjadi mati. Tidak ada yang dapat aku jajaki. Pada saat itulah aku minta tolong kepada Bapak, untuk menghubungi beberapa kolega di dunia lembaga keuangan untuk membantu memberikan kesempatan untuk kerjasama.

Apa yang Bapak sampaikan padaku waktu itu adalah :

"Saya yakin Rena bisa masuk ke link Saya, tanpa Saya memberikan surat atau wacana kepada Mereka. Pergunakan link Saya dengan baik dan amanah, sampaikan kepada Mereka, Salam dari Saya."

Rangkain kalimat itu  tegas, membuatku terpaku. Masa sih Bapak tega melakukan itu ? Sulit membayangkan, biasanya duduk manis pun mendapat gaji, sekarang duduk manis anak-anak ga bakalan sekolah, dan perjuangan baru pun dimulai..

Pantang bagiku untuk merengek kembali atas tolakan halusnya. Bapak yakin aku bisa, kenapa aku tidak ? Dan dalam perjalanan profesiku, client-clientku 70% berasal dari network yang telah  terbangun selama ini, notabene adalah link Bapak, dengan berbekal "Salam dari  Bapak"  Alhamdulillah... 

Ada prinsip yang Bapak ajarkan padaku. JADILAH WANITA MANDIRI,  jangan tergantung pada orang lain, tidak pada suami, dan tidak pada orang yang menggaji, berdoalah dan ikhtiar serta  berpikiran positif. Kalimat itu yang memicuku untuk lebih percaya diri.

#dari dulu Bapak memanggilku dengan "Ren", "Rena" padahal sudah berulang kali diingatkan, dan  Pak Misiran pun memanggilku "Mbak Ren".  

***

Bapak, seperti yang aku tulis di atas,  jika aku ceritakan semua, tulisan ini akan menjadi buku yang berjilid-jilid. Banyak yang ingin aku tulis, aku tidak ingin memulai dari satu hal yang besar, tapi dari hal kecil, kecil sekali, tapi begitu  dalam dan berarti. 

Ketika di Bulan Januari, 1997, aku mulai menjajaki Gedung BPPT LT 23,  sebagai hasil rekomendasi Moh Jumhur Hidayat, Priyo Budi Santoso, Ricky Rachmadi dan Tatat Rahmita Utami, untuk mendampingi Bapak (Many thanks for You All, gave me chance to be around You)Jujur, sedikit gentar  aku melangkah, mengingat sosok "Sang Ketua Dewan Direktur" yang terkenal tegas dengan ciri khas tersendiri di lingkungan kami. 

Ada seorang anak laki-laki di Lantai 23 itu, namanya Juli, seorang office boy yang bantu Bapak untuk menyiapkan keperluan di sana. Sebagai orang baru, aku harus belajar dan adaptasi dengan lingkungan baru. Di antara masa adaptasi itu, Bapak mengingatkan :


"Ren, Anda bisa belajar dari Juli, walaupun dia office boy, dia lebih dulu tahu dan mengerti tentang Saya dan lingkungan di sini." 


Itu adalah pelajaran pertama dari Bapak. Touch banget, memberi ilmu baru tentang hidup, bahwa kita dapat belajar dari siapapun.    


Aku selalu mengingat,  bagaimana cara Bapak memanggilku untuk ke ruangan Bapak  : "Ren, tolong ke kamar saya."  atau  "memerintah"ku untuk melakukan sesuatu, selalu dimulai dengan kata "tolong", itu memang perintah, tapi dengan kata itu aku merasa itu bukan perintah, bagiku itu adalah satu permintaan tolong untuk membantu Bapak.  Cara  yang membuat aku merasa dihargai. Dan jika semua sudah selesai, Bapak selalu mengucapkan : "Terima Kasih."   Kecil kan ? tapi memberikan arti, satu penghargaan. 


Di tahun pertama, aku belajar lebih banyak. Salah satu pelajaran penting adalah "menghargai orang lain". Pelajaran ini tentunya sudah aku dapat dari sejak aku masih kecil, dan aku sangat beruntung, bisa mendapatkan contoh nyata selain dari orang tuaku. 

Di sini ini, aku bisa melihat, bagaimana Bapak "memperlakukan" orang-orang di sekeliling. Tamu-tamu datang dari berbagai kalangan, semua diperlakukan dengan sama, sopan, santun, dan ramah. Menemui mereka dengan senyum dan  awal kata "Assalamu'alaikum"  atau "Apa kabar?" serta menjabat tangan dengan hangat. Atau menyapa orang-orang di lift, di tempat parkir, di rumah makan, di mesjid, atau ditempat-tempat lain dengan kata yang sama dan  jabatan tangan.  Itulah silaturahmi.

***

Waktu pun berjalan, 1,5 tahun berlalu sudah.  Di tahun 1998, satu kesempatan Bapak menduduki jabatan sebagai Menteri Koperasi  Usaha Kecil dan Menengah. Ada satu kalimat  diucapkan Bapak dalam pidato pertamanya di hadapan seluruh pejabat dan staf Departemen tersebut, "Apakah jabatan ini anugerah atau amanah?" Bagi Bapak, jabatan itu adalah Amanah, sebagai kewajiban yang harus dijalankan atas  kepercayaan yang telah diberikan kepadanya.  Amanah, kata-kata itu yang  menjadi bekalku. 

Banyak yang aku pelajari disini, tentang Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Petani, Nelayan, dan hal-hal lain yang lebih berorientasi ke rakyat. Bidang yang pas buat Bapak. Dan dalam masa ini, hingga kini, aku lebih bisa mengenal orang secara pribadi. Mana teman yang datang karena "kebutuhannya" saja, dan mana teman yang "benar-benar teman", lebih jelas terlihat, sempat terucap tentang hal ini kepada Bapak, dan Bapak mengingatkan : Kita lahir berbeda antara satu dengan yang lain, hargai perbedaan, namun jangan ikuti perbedaan yang bisa merusak ahlak dan martabat. 


***

Bapak, ketika Bapak menawarkan aku untuk tetap di Departemen Koperasi atau pindah ke  Bio Farma sebelum serah terima jabatan di Departemen Koperasi. Dengan tegas aku menjawab, "Tidak, Saya ikut Bapak."  Jawaban itu meluncur begitu saja, aku tidak mempersiapkan jawaban karena pertanyaan itu tidak terlintas dalam pikiranku. Spontanitas terjadi karena aku merasa nyaman. Nyaman untuk terus bersama dengan Bapak. (jujur, tidak terbayangkan bagaimana kalau saat itu justru Bapak tidak mau aku dampingi  ? )

Bapak bertanya : "Anda mau berkantor dimana ?"  Aku bingung dengan pertanyaan Bapak. "Saya tidak punya kantor. Minggu ini kita berkantor di mobil saja, sambil cari kantor baru", lanjut Bapak sambil tertawa.  

Dan sisa waktu seminggu sejak tanggal 26 Oktober itu, agenda Bapak adalah silaturahmi, ke Kantor ICMI, Habibie Center, Republika, PT Techno Graha, PPA, juga  kunjungan ke para sahabat. Kita sempat berkantor di BNI 46, waktu itu Kantor Habibie Center (awal THC terbentuk).  Kemudian ke Kantor Ibu Dewi Soeprapto, PT Techno Graha, di Permata Plaza, JL. MH Thamrin.  Dulu Bapak pernah menjabat di perusahaan ini, dan melepaskannya ketika menjadi Menteri Koperasi.

November pertengahan 1999,  Bapak mengajakku ke satu gedung di kawasan Menteng, tepatnya Jalan Agus Salim 117. Satu tempat yang sangat strategis, dengan cat kuning. "Gedung ini milik Pak Jo, Saya diberikan kesempatan untuk berkantor di sini." itu gambaran yang Bapak berikan tentang gedung ini.
"Kok bisa Pak Jo memberikan kesempatan seperti itu ?"  tanyaku.
"Saya bersilaturahmi dengan Pak Jo, beberapa waktu yang lalu." jawab Bapak sambil tersenyum.  Alhamdulillah ... Back to Silaturahmi, arti, makna, dan hikmahnya.

Sejak Bapak berkantor disana, dan sampai hari ini, Kantor itu disebut dengan GEDUNG KUNING. Di sana lahir Yayasan Indonesia Bangkit. Gerbang Tani Makmur, Jaring Global Nusantara, Jaring Kedai Nusantara, Jaring Telematika Nusantara, dan lain-lain. Dari sana pelajaran dan pengalaman baru lahir, menjadi bekal hingga hari ini. (Dear Pak Jo, Bu Lies, personally, I would like to thank you very much, I got valuable lesson, knowledge and experience)

Aku ingat, ketika Bapak memintaku untuk menjadi salah satu calon legislatif di Partai Merdeka. Padahal Bapak tahu,  aku tidak tertarik dengan bidang itu dan tidak berambisi. Bapak  memintaku untuk masuk dan berkata : "turunlah ke masyarakat, saya tidak meminta Rena untuk "jadi", tapi untuk mendapatkan pengalaman bagaimana caranya  menyentuh rakyat, ketahui apa yang mereka butuhkan, dan bantu apa yang mereka butuhkan. Satu kunci utamanya adalah Ikhlas dan Amanah"   


***

Bapak, setiap hari Jum'at jika sholat Jum'at di Kantor (Di Gedung BBD Plaza), sebelum berangkat Bapak meminta aku mengeluarkan sejumlah dana dengan jumlah yang tidak sama. Dan setiap Bapak pulang sholat, selalu ada  yang mendampingi Bapak, kadang dengan orang yang lama atau orang baru. Dan sesampainya di Kantor, Bapak akan bilang : "tolong siapkan ya Ren, terima kasih". Aku mengerti apa yang disampaikan Bapak, dan menyerahkan titipan Bapak kepada mereka. 

"itu adalah kendaraan kita ke akherat." Kata Bapak. 

Mereka selalu datang, datang, dan datang lagi. Dengan orang yang sama, berbeda, bahkan membawa orang lain. Mungkin orang yang melihatnya akan bosan. Jujur, ada pula yang suka menggerutu (kenapa mereka menggerutu ?). Tapi Bapak akan turun mendatangi mereka jika sempat, mengucap salam, berjabat tangan, dan memberikan apa yang mereka perlukan atau memintaku untuk turun dan menyampaikan amanatnya.  Dihitung dari nominal, tidak seberapa, tapi aku melihat sinar mata kebahagiaan dari mereka. 

Suatu saat, aku pernah mendengar gerutuan seseorang tentang itu di saat aku tidak mendampingi Bapak. Aku paham, Dia tidak cukup mengenal baik Bapak. Itu saja. 

***

Bapak, ingat ketika aku bilang bahwa ada orang yang tidak jujur kepada Bapak ? Bukan karena aku menerima pengaduan orang, tapi karena aku yang mengalaminya. Aku kesal, marah, merasa dipecundangi (kenapa jadi aku yang marah ?). 

Bapak mendengarkan semua pembicaraanku, menanyakan dan mengomentari beberapa point. Dan ketika aku tanyakan apa yang akan Bapak lakukan, Bapak tersenyum, dan berkata  : "Biarkan saja, waktu itu dia  tidak amanah, Allah tahu apa yang harus dilakukan atas perbuatannya." Aku tertegun, speechless. How's coming ??? 

Dan ketika orang itu datang lagi berkunjung ke kantor, Bapak bersikap hangat dan tenang seperti biasanya, seakan tidak pernah ada pembicaraanku tentangnya. Bapak memperhatikan sikapku yang kurang manis dan menghampiriku dan berbisik : "senyum Ren, senyum itu adalah ibadah"  Huhuhu Bapak .... !!

***

2010 lalu, aku belajar banyak bertani, dan sekaligus menjadi petani. Tadinya kupikir, aku akan duduk manis menandatangani setiap perjanjian antara perusahaan dengan kelompok tani, tapi ternyata Bapak menguasakan pengurusan sepenuhnya untuk turun dan bertani. Padahal Pak, waktu itu aku juga kontrak dengan perusahaan lain yang bergerak di bidang  fashion dan entertine (maaf aku tidak pernah bilang tentang ini). Dua bidang yang bertolak belakang.

Terbayang ketika aku harus belajar tentang bibit jagung, padi, kedelai, gandum, dan sorgum, belajar tentang pupuk organik dan non organik, tentang pestisida, membuat budget per hektar setiap tanaman, membuat cashflow dengan ribuan hektar, menghadapi para petani,  juga aparat desa dan pejabat instansi setempat . It's so amazing.

Bapak senang dengan usahaku mempelajari bidang ini, membaca, berhitung dan  berkomunikasi. Bapak bilang : "tentang pertanian dan komunikasi, banyak literatur yang bisa dipelajari, tapi berhadapan dengan petani dan aparat di sana, tidak seperti itu caranya. Sumbernya di diri kita, di Rena, bagaimana caranya agar petani merasa nyaman menyambut dan menerima kedatangan kita dengan senyum, bukan dengan spanduk penolakan."

***


------------> Bersambung

Responsive Full Width Ad

YOUR RESPONSIVE AD CODE
Copyright © 2016 MsReina's Note, powered by Blogger.