Reno adalah seorang freelancer yang lelah dengan biaya hidup di kota besar. Matanya berbinar ketika ia menemukan iklan sewa yang terlalu ...
Reno adalah seorang freelancer yang lelah dengan biaya hidup di kota besar. Matanya berbinar ketika ia menemukan iklan sewa yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan: sebuah apartemen bernama Puri Senja, unit Tipe H (Hantu), dengan harga yang sungguh tidak masuk akal murahnya. Setelah berhasil menyewanya, iklan itu menghilang total dari internet, seolah-olah tidak pernah ada.
Unit Tipe H terasa sempit, pengap, dan anehnya, selalu dingin meskipun di tengah hari bolong. Di dinding yang berhadapan langsung dengan dapur kecilnya, ada retakan vertikal yang panjang, tipis seperti sehelai rambut, memanjang dari lantai hingga langit-langit. Aneh, pikir Reno, tapi ia mengabaikannya.
Malam pertama, sekitar pukul 03:00, Reno terbangun oleh suara aneh dari balik dinding retak itu. Bukan suara benturan atau suara keras, melainkan suara aktivitas domestik yang sangat jelas: suara pisau memotong sayuran, suara keran air dibuka dan ditutup, lalu suara piring beradu pelan. Seolah-olah tetangganya sedang memasak makan malam tepat di balik dinding itu.
Pagi harinya, Reno mencoba mencari tahu siapa tetangganya. Ia bertanya kepada petugas keamanan tua yang duduk di lobi. Petugas itu menatapnya dengan tatapan kosong. "Unit di sebelah Tipe H, Pak? Itu sudah kosong selama sepuluh tahun. Tidak pernah disewakan. Tidak ada ventilasinya."
Rasa dingin menjalar di punggung Reno. Ia kembali ke unitnya. Malam berikutnya, suara-suara itu kembali. Suara-suara itu menjadi teman tidurnya yang menakutkan, hingga ia mulai merasa paranoid.
Suatu malam, Reno yang penasaran menempelkan telinganya ke dinding retak itu. Ia mendengar suara bisikan pelan, lalu suara seorang wanita yang sedang menyanyikan lagu anak-anak dengan melodi yang sedih. Ia mengintip melalui celah retakan yang sangat kecil. Ia melihat cahaya kuning samar dari balik dinding.
Reno memaksakan matanya untuk melihat lebih jelas. Di balik dinding, ada ruangan yang tampak identik dengan unitnya sendiri, tetapi terlihat lebih kotor, lebih tua, dan lebih lusuh. Di dapur yang gelap itu, seorang wanita berbaju tidur usang sedang berdiri, membelakanginya, melantunkan lagu itu.
Tiba-tiba, wanita itu berhenti menyanyi. Ia berbalik perlahan, dan menatap lurus ke arah dinding. Wajahnya pucat, matanya kosong, dan dipenuhi rasa kesepian yang dalam. Ia tidak tersenyum. Perlahan, wanita itu menempelkan telinganya ke dinding, tepat di sisi telinga Reno. Ia berbisik, suaranya terdengar jelas, seolah-olah wanita itu berada di dalam kamarnya:
"Aku menemukanmu. Aku tidak sendiri lagi."
Reno segera melompat mundur, jantungnya berpacu seperti drum. Ia mencari apa saja untuk menghancurkan dinding itu, untuk memastikan tidak ada siapa-siapa di balik sana.
Tiba-tiba, ia mendengar suara dari celah retakan itu, suara tawa yang renyah dan dingin. Itu bukan tawa wanita itu, melainkan tawa seorang anak kecil.
Reno melihat ke dinding. Retakan berbentuk rambut itu mulai melebar dengan suara kretek yang mengerikan, seperti tulang yang patah.
Dan dari retakan yang melebar itu, jari-jari kurus dan panjang perlahan-lahan menyembul keluar, mencoba meraih udara di kamar Reno. Jari-jari itu tidak terlihat seperti jari manusia.
Reno berteriak dan lari. Ia meninggalkan semua barangnya, kunci, dan identitasnya di apartemen itu. Ia berlari keluar dari Puri Senja tanpa menoleh ke belakang.
Beberapa hari kemudian, Reno, yang kini tunawisma dan trauma, mencari website properti lama tempat ia menemukan iklan itu. Anehnya, iklan apartemen Tipe H kembali muncul.
Kali ini, di bagian bawah iklan, ada komentar anonim yang baru dan menakutkan:
"Unit Tipe H: Sangat direkomendasikan. Sekarang ada dua penghuni di sini. Sangat ramai. Dan kadang-kadang, ada suara anak kecil yang bernyanyi."
Reno tahu, tetangga dari balik dinding itu akhirnya mendapatkan teman baru. Dan ia juga tahu, ia sendiri kini telah menjadi bagian dari iklan itu, sebagai bukti bahwa unit Tipe H memang selalu ada penghuninya, bahkan ketika mata telanjang tidak melihat siapa pun.
COMMENTS